Katak Terkecil di Dunia
Salah satu katak terkecil di dunia yang pernah terlihat di luar Amerika Utara dan Amerika Selatan telah ditemukan di hutan-hutan pulau Kalimantan, Asia Tenggara. Hewan amfibi berukuran biji kacang (Microhyla nepenthicola) ditemukan dekat dengan sebuah gunung di Kubah National Park.
Microhyla nepenthicola, shown here on the tip of a pencil, is about the size of a pea. Credit: Indraneil Das/ Institute of Biodiversity and Environmental Conservation.
Indraneil Das dari Universiti Malaysia Sarawak dengan Alexander Haas dari Grindel Biozentrum und Zoologisches Museum Hamburg, Jerman yang telah berhasil menemukan makhluk kecil tersebut mengatakan bahwa mungkin para ilmuwan mengira katak-katak tersebut adalah benih-benih dari katak berukuran normal. Ternyata katak-katak tersebut adalah katak dewasa yang merupakan spesies terbaru berukuran mikro yang baru ditemukan setelah lebih dari 100 tahun kita hanya melihat beberapa spesimen koleksi museum yang berukuran normal. Penemuan katak mini ini secara rinci telah dipublikasikan dalam Jurnal Zootaxa edisi 19 Agustus 2010.
Katak mini tersebut dinamai setelah diketahui bahwa untuk bertahan hidupnya, katak tersebut selalu tergantung pada sebuah spesies tanaman di Kalimantan yang disebut Nepenthes ampullaria. Tanaman ini memiliki rongga, berbentuk kantung terbuka, tumbuh di tempat yang lembab dan hutan teduh. Katak-katak tersebut menyimpan telur mereka di sisi kantung. Selanjutnya kecebongnya tumbuh besar dalam cairan yang berada di dalam tanaman.
Katak jantan dewasa spesies baru ini mempunyai panjang sekitar setengah inci (10,6-12,8 mm) dan hampir seukuran dengan kacang polong. Karena ukuran mereka sangat kecil membuktikan bahwa mereka mampu menghadapi segala amcaman, tantangan dan rintangan.
The newly-discovered frog species sitting on the lip of a pitcher plant. These carnivorous plants are home for these tiny amphibians. Credit: Indraneil Das/ Institute of Biodiversity and Environmental Conservation.
Katak-katak tersebut dapat mudah dilacak melalui suara panggilan yang mereka keluarkan. Kemudian oleh para ilmuwan disiapkan selembar kain putih agar katak-katak tersebut loncat di atasnya untuk diperiksa lebih dekat. Biasanya mereka memulai nyanyiannya pada sore hari, dengan katak jantan berkumpul di dalam dan di sekitar tanaman Nepenthes ampullaria. Mereka mengeluarkan serangkaian suara serak keras yang berlangsung selama beberapa menit dengan interval keheningan yang singkat. Inilah yang dinamakan dengan “simfoni amfibi” yang berlangsung dari matahari terbenam sampai puncaknya pada malam dini hari.
Amfibi adalah kelompok hewan yang paling terancam di dunia dimana sepertiga dari mereka dalam bahaya kepunahan. Mereka mempunyai peranan yang penting bagi manusia, seperti mengendalikan populasi serangga yang menyebarkan penyakit dan merusak tanaman, dan membantu untuk memelihara sistem air tawar yang sehat.
Robin Moore dari Conservation International mengatakan bahwa hewan amfibia cukup sensitif terhadap perubahan di lingkungannya, jadi kita berharap dengan penemuan katak miniatur ini akan membantu kita untuk memahami apakah perubahan lingkungan secara global mempunyai dampak terhadap hewan-hewan menarik ini. Conservation International telah melakukan pencarian terhadap apa yang disebut dengan “amfibi hilang (Lost Amphibians)” yaitu spesies yang belum pernah terlihat dalam beberapa tahun yang mungkin saja bisa punah di seluruh dunia.
CB : Yona Yuliandari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar